Faliziah's Weblog

November 13, 2011

Hay Masalah, End!

Filed under: Uncategorized — faliziah @ 2:12 am

Cobaan kadang datang begitu saja. Dan dalam menjalani kehidupan ini pastinya seseorang mengalami yang namanya pasang surut. Terkadang kita bahagia, keadaan baik-baik saja, tapi suatu hari kita akan mengalami suatu masalah. Masalah datang bisa jadi itu untuk meningkatkan kualitas diri kita. Dengan kita memiliki masalah, kita punya pengalaman menyelesaikan masalah. Menyelesaikan masalah itu selalu membutuhkan keputusan bijak. Jika aku putuskan begini maka apa akibatnya nanti, begitu. Bagaimana kita tahu saat kita bilang “saya orangnya kuat, saya orangnya sabar, saya orangnya tegar, dll” jika semua itu tidak datang cobaan atau masalah sebagai pembuktiannya bahwa kita tegar. Bagaimana orang yang berkata “saya beriman” tetapi tidak adanya ujian yang datang untuk menguji keimanannya. Menguji apakah hal itu benar adanya. Oleh karena itu masalah bukan Sesuatu yang perlu kita pikirkan beratnya bobot masalah itu tetapi masalah itu perlu diselesaikan sesegera mungkin agar kualitas diri meningkat. Katakana, curahkan semua masalahmu kepada Allah SWT, bilanglah “wahai masalah yang begitu besar, aku memiliki Allah Yang Maha Besar”.

Mulailah dengan berkata positif pada diri sendiri “jangan stress, rilek”, jangan pula mengeluh dengan keadaan yang tak kunjung membaik. Sabar adalah kunci kita bias menyelesaikan suatu masalah dengan tenang, damai. Seperti salah satu hadit Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”. Maka dari itu tak usah merasa berah ketika ujian atau masalah datang ke padamu, petanda memang waktunya kamu diuji, petanda pula Allah SWT sangat sayang padamu karena Allah SWT ingin meningkatkan kualitas kita. Janganlah berburuk sangka kepada Allah SWT. Tetapi jika masalah menjadikan kita jauh dari Allah SWt, itu berarti ada yang salah dengan diri kita, kenapa hati ini malah makin menjauh saat diberikan masalah. Mulailah mengoreksi diri, membenahi diri ini supaya menjadi diri yang berkualitas, yang lebih baik dari sebelumnya.

Ada beberapa tips menghadapi masalah atau cobaan, berikut ini :

  1. Mengimani takdir ilahiSetiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

    كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

    Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”[1]

    Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” [2]

  2. Yakinlah, ada hikmah di balik cobaanHendaklah setiap mukmin mengimani bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti ada hikmah di balik itu semua, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak kita ketahui.[3] Allah Ta’alaberfirman,

    أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)

    Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)

    Allah Ta’ala juga berfirman,

    وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (38) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ

    Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.” (QS. Ad Dukhan: 38-39)

  3. Ingatlah bahwa musibah yang kita hadapi belum seberapaIngatlah bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mendapatkan cobaan sampai dicaci, dicemooh dan disiksa oleh orang-orang musyrik dengan berbagai cara. Kalau kita mengingat musibah yang menimpa beliau, maka tentu kita akan merasa ringan menghadapi musibah kita sendiri karena musibah kita dibanding beliau tidaklah seberapa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي

    Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.[4]

    Dalam lafazh yang lain disebutkan,

    مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ

    Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia tentu akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.[5]

  4. Ketahuilah bahwa semakin kuat iman, memang akan semakin diujiDari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

    يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

    Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

    « الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

    Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.[6]

  5. Yakinlah, di balik kesulitan ada kemudahanDalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’alaberfirman,

    فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

    Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

    Ayat ini pun diulang setelah itu,

    إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

    Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6). Qotadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan,

    لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

    Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.[7]

  6. Hadapilah cobaan dengan bersabar‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

    الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.

    Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.[8]

    Yang dimaksud dengan bersabar adalah menahan hati dan lisan dari berkeluh kesah serta menahan anggota badan dari perilaku emosional seperti menampar pipi dan merobek baju.[9]

  7. Bersabarlah di awal musibahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

    Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.[10] Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.

  8. Yakinlah bahwa pahala sabar begitu besarIngatlah janji Allah,

    إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

    Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[11]

  9. Ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un …” Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

    Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[12]

    Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

  10. Introspeksi diriMusibah dan cobaan boleh jadi disebabkan dosa-dosa yang pernah kita perbuat baik itu kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat lainnya. Allah Ta’alaberfirman,

    وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

    Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syura: 30). Maksudnya adalah karena sebab dosa-dosa yang dulu pernah diperbuat.[13] Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Akan disegerakan siksaan bagi orang-orang beriman di dunia disebabkan dosa-dosa yang mereka perbuat, dan dengan itu mereka tidak disiksa (atau diperingan siksanya) di akhirat.”[14]

Dikutip dari sumber http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2905-10-kiat-tegar-menghadapi-cobaan.html

Kesimpulan,

Maka berpikirlah positif akan adanya masalah yang datang. Dan motivasi terbesar dari motivasi dari diri sendiri, maka mulailah mengatakan hal-hal positif dan buang saja hal-hal negative. Allah SWT member masalah pada hambanya itu bersadarkan kemampuan hambany, maka masalah itu pasti bisa diselesaikan. Sabarlah disaat masalah datang dan jangan mengeluh.

Dan yang terakhir, semoga hari-hari kalian dipenuhi hal-hal positif yang menmbangun diri, menuju cita-cita kalian. Mulailah dari diri sendiri. Sekian

—–Kesabaran dapat membawa dampak baik pada setiap pekerjaan atau kegiatan—–

to my bestfriend women:

ini salah satu dari beberapa ungkapan sayang aku padamu, aku tak ingin kamu sedih, aku hanya bisa memberi dukungan dan doa. kamu tak sendirian malaikat kecil. sabar.

Iklan

4 Komentar »

  1. ayooee,, semangka……

    Komentar oleh guest lhoo — November 14, 2011 @ 2:48 am

  2. keren, yung.. 😀

    Komentar oleh nida — November 16, 2011 @ 1:21 am

  3. keren sai . . makasih

    Komentar oleh ayu — Desember 12, 2011 @ 6:54 am

    • makasih

      Komentar oleh faliziah — Desember 12, 2011 @ 7:11 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: