Faliziah's Weblog

Mei 23, 2009

PROBLEMS

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — faliziah @ 4:19 pm

Masalah selalu datang dalam hidup kita silih berganti, berubah terus setiap generasinya.  Kadang begitu susah, kadang mudahnya tak terkira. Bisa diibaratkan masalah-masalah yang datang seperti titik-titik hujan yang deras menerjang bumi.

Tetesan itu akan merusak jalan dan bahkan dapat memecahkan batu. Kadang ada yang menggenang di atas lapisan beton.  Hal yang sama ditimbulkan oleh masalah. Namun, manusia tidak diciptakan Allah swt dari aspal, batu, atau adukan semen yang mengering.  Manusia diciptakan dari tanah. Keistimewaannya, hujan yang turun tidak menggenang di atas ataupun merusak dan memecahkannya. Tapi meresap ke dalam tanah itu. Kemudian kita lihat apa yang terjadi pada tanah setelah hujan itu reda dan matahari bersinar cerah. Perhatikanlah teman-temanku.

Keajaiban terjadi, air yang menggenang lama-lama meresap ke dalam tanah. Kemudian dibantu sinar matahari tumbuhan mulai muncul. Tanahpun berwarna hijau menyegarkan. Setelah beberapa lama, tanah pun mulai dipenuhi rerumputan dan bunga-bunga.

Sebagai manusia, tercipta dari apakah kita? Batu, atau aspal, atau adukan semen? Tidak pembaca sekalian, tidak. Kita tercipta dari segenggam tanah. Esensi yang membentuk kita sebagai manusia tak lain dan tak bukan adalah tanah.

Sudah seharusnya manusia yang sejati mewarisi sifat asli bahan pembuatnya. Seperti tanah yang tak gentar hadapi hujan. Manusia pun seharusnya tak gentar hadapi masalah yang gemar mendera hidup. Menyerap semuanya, dan menikmati setiap tetesan masalah yang tercurah. Maka begitu hujan masalah berakhir, sinar pencerahan pun akan muncul dan menumbuhkan kesempurnaan dalam diri manusia. Membuatnya semakin bijak dan berpengalaman, menyempurnakan hidupnya.

Seperti tanah pula, ketika hujan tak kunjung turun. Tanah akan menjadi gersang dan tandus. Yang awalnya menghijau, kini menjadi kering kerontang. Manusia pun, setelah lama tak mendapat curahan masalah dalam hidupnya dan tak ada tantangan yang berarti. Maka iapun akan merasa kekeringan, menjadi manusia yang ‘gersang’. Manusia selayaknya tanah, diciptakan untuk menyambut hujan masalah. Manusia hidup untuk menggugah nasib, menyambut takdir dan menjadikannya indah tak terperi.

Hidup kita tak akan menjadi indah dan bermakna tanpa adanya masalah. Oleh karena itu sambutlah ia kawan, hadapi bersama mimpimu. Jangan sekalipun mundur, karena Tuhanmu tidak menciptakanmu untuk itu.

By : Muhammad Fata Ridhwana

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.